Tinggalkan komentar

Jiwa Kepemimpinan

Seorang pengemis tua duduk di atas sebongkah batu dekat sebuah perempatan jalan. Setiap hari dari pagi hingga sore ditengadahkannya tangannya meminta belas kasihan orang-orang yang kebetulan lewat. Profesi ini sudah dilakoninya sejak puluhan tahun silam. Hasil dari mengemis ini cukup untuk menghidupi isteri dan anaknya yang semata wayang.

Suatu hari lewatlah seorang bapak berjanggut putih mengendarai sedan putih di depan pengemis tua. Sejurus orang itu memperhatikan si pengemis tua. “Sudah berapa lama Anda duduk di atas batu itu?” tanyanya penuh selidik. “Lebih dari 20 tahun, Tuan”, jawab pengemis itu spontan. “Pulanglah dan bawalah cangkul kembali. Coba Anda gali tanah di bawah batu yang sedang Anda duduki. Anda pasti menemukan sesuatu.”

Setelah mengucapkan terima kasih secukupnya, pengemis tua itu buru-buru pulang mengambil cangkul. Betapa kagetnya dia tatkala menggali tanah yang lebih dari 20 tahun telah menjadi tempat duduk dalam menjalankan profesinya. Berkeping-keping emas dan perak berada dalam timbunan tanah tersebut. Ternyata selama ini dia tidak menyadari adanya harta karun itu. Bahkan, selama lebih dari 20 tahun dia hanya memanfaatkannya sebagai tempat untuk meminta belas kasihan orang.

Seandainya dia sedari awal dia sudah mengetahui ada timbunan harta karun di dalam tanah itu, mungkin dia saat ini sudah menjadi seorang pebisnis sukses yang kaya raya nan dermawan. Akan tetapi, selama puluhan tahun dia telah menyia-nyiakan harta karun itu.

Demikian juga halnya dengan diri kita. Puluhan tahun sudah kita sia-siakan potensi superdahsyat yang ada pada diri kita. Sebenarnya kita ini adalah orang-orang hebat. Bahkan, jauh lebih hebat dari yang kita duga selama ini.

Dalam hal kepemimpinan, sesungguhnya sedari ketjil dalam diri kita terdapat jiwa kepemimpinan. Akan tetapi, terkadang kita tidak menyadarinya, bahkan setjara perlahan-lahan menenggelamkan jiwa kepemimpinan itu. Jiwa kepemimpinan terbenam begitu saja tanpa pernah diasah dan dikembangkan.

Komunikasi internal dalam diri kita seringkali ikut berkontribusi menenggelamkan jiwa kepemimpinan itu. “Saya tidak berbakat menjadi pemimpin”, “Saya tidak mempunyai jiwa kepemimpinan”, “Saya tidak tidak berasal dari keturunan pemimpin”, serta banyak lagi tjelotehan yang terlontar yang tentunya berdampak makin mengkerutnya jiwa kepemimpinan dalam diri kita.

Mulai sekarang marilah kita memupuk dan mengasah jiwa kepemimpinan dalam diri kita. Mari kita siapkan diri kita menjadi pemimpin, minimal mejadi pemimpin atas diri kita sendiri…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: