Tinggalkan komentar

MEMBERI DENGAN IKHLAS

Seorang pebisnis, sebut saja namanya Anton, ingin mengundang makan siang seorang mitra bisnisnya di sebuah restoran yang menjadi langganannya. Anton sering makan di restoran itu, sehingga hampir semua pelayannya kenal sama Anton. Terlebih-lebih Anton terkenal murah hati dalam memberikan tip kepada pelayan. Tak heran jika kedatangan Anton di restoran itu disambut bagaikan seorang raja.

Siang itu Anton sudah datang duluan. Seorang pelayan menyambut dan mempersilakan Anton duduk di tempat yang sudah disediakan secara khusus. Tidak lama kemudian mitra bisnisnya, sebut saja Rudi datang ke restoran itu. Sambutan pelayanan biasa saja, tidak seramah sambutannya kepada Anton. Kontras sekali perbedaan perlakuan pelayanan antara terhadap Anton dan terhadap Rudi.

Sebenarnya Anton melihat perbedaan perlakuan ini, tetapi dia simpan saja dalam hati. Setelah makan siang selesai, Anton membayar tagihan dengan tidak lupa memberikan sejumlah tip kepada pelayanan. Di luar dugaannya, Rudi pun memberikan tip juga kepada pelayan yang telah memberikan pelayanan yang buruk, bahkan jumlahnya lebih besar daripada yang diberikan Anton.

Melihat fenomena itu, Anton menjadi penasaran. Dia langsung menanyakannya kepada Rudi. Dia tahu bahwa Rudi adalah seorang pebisnis yang terkenal amat arif nan bijaksana. “Bagiku, perbuatan orang lain tidak bisa menghalang-halangi niatku untuk berbuat baik. Jika aku sudah berniat berbuat baik, tak seorang pun bisa menghalangiku, termasuk pelayanan buruk pelayan tadi,” jelas Rudi dengan penuh kearifan.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kejadian yang hampir sama dengan cerita di atas. Niat kita untuk berbuat baik dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Contoh paling sederhana adalah pada saat parkir di mall. Begitu petugas parkir memberikan pelayanan bagus dengan menunjukkan tempat parkir yang kosong, dengan serta merta kita memberikan tip, tetapi saat petugas parkir hanya memberikan pelayanan seadanya, kita tidak memberikan apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa kita memberikan sesuatu karena kita semata-mata untuk membalas kebaikan (perbuatan) dari seseorang. Kita belum sampai pada taraf memberi dengan tulus ikhlas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: