Tinggalkan komentar

Benarkah Pendukung Gerakan Tolak Bayar Pajak di Facebook akan Berkurang?

Kasus GT menjadi perbincangan menarik belakangan ini. Tidak hanya di media massa, di kantor-kantor (baik pemerintah maupun swasta), bahkan juga merebak hingga ke kedai kopi. Mereka memberikan komentar berdasarkan sudut pandang masing-masing. Karena GT adalah seorang pegawai Direktorat Jenderal Pajak, perbincangan pun merembet ke instansi yang mendapat amanah untuk memungut dan mengumpulkan uang pajak dari masyarakat ini.

Beragam opini tentang institusi pajak ini bermunculan. Ada yang mencaci, mencemooh, menghujat, dan sejenisnya. Ada juga yang memberikan dukungan moral kepada para pegawainya agar tetap berjuang dan meningkatkan semangat modernisasi yang telah dengan susah payah dibangun selama ini.  Opini-opini bermunculan hingga ke situs jejaring sosial terkenal, yakni facebook. Bahkan terbentuklah beberapa gerakan untuk menolak atau memboikot pembayaran pajak. Intinya adalah ajakan untuk menolak membayar pajak. Semua ini adalah buah dari terkuaknya kasus GT.

Gerakan untuk menolak membayar pajak mendapat dukungan luas dari para facebooker. Tiap hari anggotanya kian bertambah. Secara emosional mereka memberikan dukungan sepenuhnya kepada gerakan ini. Terlebih-lebih bagi mereka yang selama ini memang tidak sepenuh hati mau membayar pajak. Suasana ini diperkeruh lagi dengan banyaknya pemberitaan yang bias tentang kasus GT. Banyak yang menuding bahwa GT telah menilep uang pajak yang disetorkan rakyat. Kesempatan ini mereka gunakan sebaik-baiknya untuk melampiaskan kekesalan mereka dengan ikut mendukung dan menjadi anggota gerakan menolak membayar pajak.

Apakah gerakan untuk menolak membayar pajak memang akan mereka realisasikan? Marilah kita lihat beberapa ilustrasi di bawah ini. Ilustrasi ini merupakan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di masa yang akan datang yang akan dialami para anggota gerakan ini.

Kartana (bukan nama sebenarnya) adalah seorang manajer di sebuah perusahaan swasta. Di sela-sela kesibukannya bekerja di kantor, dia masih menyempatkan diri untuk bersosialisasi dengan teman-temannya lewat facebook. Sekitar tiga hari yang lalu dia telah ikut menjadi anggota gerakan menolak membayar pajak.  Hal ini dilakukannya karena ajakan dari seorang temannya. Dia mau bergabung karena perasaannya geram melihat ulah GT yang menurutnya sudah sangat keterlaluan telah mengantongi secara ilegal uang pajak yang telah disetorkan rakyat, termasuk dirinya. Padahal, selama ini Kartana merupakan sosok karyawan yang sudah patuh membayar pajak. Dia ikut gerakan ini dan bertekad untuk tidak mau lagi membayar pajak.

Di sisi lain, sudah sebulan belakangan ini Kartana bermaksud menjual salah satu rumah yang dimilikinya. Pada tahun 1999 dia membelinya dengan harga kurang dari Rp50 juta, tetapi harga pasaran sekarang sudah mencapai Rp200 juta lebih. Dalam sebulan ini sudah ada beberapa calon pembeli yang menawar rumahnya, tetapi selalu harganya masih di bawah Rp200 juta. dia masih tetap mempertahankan harganya di kisaran Rp200 juta.

Berkat kesabarannya, ternyata ada pasangan suami isteri baru yang hendak memiliki rumah dan langsung sepakat dengan harga Rp200 juta. Karena sudah ada kesepakatan, Kartana dan calon pembelinya menghubungi seorang notaris untuk menyelesaikan akte jual belinya. Karena kesibukan masing-masing, mereka sepakat untuk bertemu di sebuah restoran sembari makan siang.

“Sebelum akte jual beli ditandatangani, saya minta Bapak-bapak berdua untuk melunasi pajak-pajak yang berkaitan dengan transaksi jual beli ini!”,  pinta sang Notaris. “Sebagai Notaris, saya diwajibkan untuk memastikan bahwa Pajak Penghasilan sebesar 5% dari harga jual telah dibayar oleh pihak penjual dan Bea Perolehan Hak atas tanah dan/atau bangunan sebesar 5% juga dari harga jual oleh pihak pembeli. Apabila pajak-pajak tersebut tidak atau belum dilunasi, maka akte jual beli belum boleh ditandatangani.”, kembali Notaris itu melanjutkan pembicaraannya.

Sejurus Kartana terdiam. Baru tiga hari yang lalu dirinya ikut gerakan menolak membayar pajak dan bertekad untuk tidak mau membayar pajak. Hari ini dia dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan dia membayar pajak apabila dia ingin benar-benar melepas rumahnya itu. Padahal sudah sebulan ini dia menawarkan rumahnya, tetapi baru kali ini menemukan pembeli yang cocok dengan harga yang ditawarkan. Terbayang duit sebesar Rp200 juta yang akan diterimanya dan sudah bermusyawarah dengan isterinya untuk dipergunakan merenovasi rumah yang ditinggalinya sekarang.

“Kalau saya tetap tidak mau membayar pajak, sampai kapan pun rumah ini tidak akan terjual”, pikirnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk melaksanakan anjuran sang notaris untuk segera melunasi Pajak Penghasilan yang terutang. Walaupun pikirannya diliputi keraguan, dia menyampaikan kepada Notaris bahwa dia akan segera meluansi pajak tersebut.

Sebagai pihak penjual, Kartanalah yang mendapatkan uang atas transaksi jual beli ini. Oleh karena itu, untuk makan siang kali ini dialah yang membayar semua tagihan. Setelah diberikan kode, datanglah pelayan memberikan bon. Sejenak dia memperhatikan angka-angka yang tercantum dalam bon. Ternyata di sana terdapat angka yang merupakan Pajak Restoran sebesar 10%. Lagi-lagi Kartana dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan dia membayar pajak. Dengan perasaan nelangsa, akhirnya tagihan makan siang itu pun dibayar lunas.

Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, pikirannya terus berkecamuk. Apakah dia tetap menjadi anggota gerakan menolak membayar pajak ataukah keluar dari gerakan itu dan tetap menajdi warga negara yang baik yang taat membayar pajak? Setelah berada di hadapan komputer, di memutuskan untuk keluar saja dari gerakan tersebut. Menurutnya, gerakan yang diikutinya percuma saja karena dalam kenyataan sehari-hari dia tidak bisa menghindar dari kewajiban membayar pajak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: