5 Komentar

Syukurlah, Setoran Pajak Tahun Ini Meningkat

Walaupun dunia sedang dilanda krisis, tetapi perekonomian Indonesia masih menunjukkan geliat pertumbuhan. Di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang rata-rata minus, Indonesia berhasil membukukan angka positif. Kondisi ini juga dirasakan oleh Hendra, seorang wirausahawan muda enerjik yang baru terjun ke kancah bisnis dalam dua tahun terakhir. Omzet usaha percetakan yang dijalankan melalui bendera PT Arthamedia Sukses Makmur juga menuai kenaikan di tahun 2009 ini.

Usaha yang mulai dirintis dalam pertengahan tahun 2007 itu telah berhasil membukukan penjualan sebesar Rp200 juta dalam tahun 2008. Dari peredaran bruto tersebut, setelah dikurangi biaya-biaya, Hendra mendapatkan laba bersih sebanyak Rp60 juta. Saat itu pajak yang disetor atas penghasilan yang diperolehnya melalui PT Arthamedia Sukses Makmur adalah sebesar Rp6.500.000,00. Cara menghitungnya cukup sederhana. Dari Penghasilan Kena Pajak (laba bersih) sebesar Rp60 juta, tarif 10% dikenakan terhadap Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp50 juta dan menghasilkan jumlah pajak sebesar Rp5 juta. Sisanya, Rp10 juta, berlaku tarif 15%, sehingga 15% dikalikan dengan Rp10 juta sama dengan Rp1,5 juta. Dengan demikian pajak penghasilan yang disetor Hendra untuk tahun pajak 2008 adalah Rp6,5 juta.

Seiring dengan tumbuhnya ekonomi Indonesia, omzet PT Arthamedia Sukses Makmur juga ikut menanjak. Walaupun tahun 2009 belum berakhir, Hendra sudah bisa memprediksi akan ada kenaikan penjualan menjadi Rp250 juta. Namun sayang, kenaikan peredaran ini juga diiringi dengan melonjaknya biaya-biaya, sehingga laba bersih perusahaan diperkirakan sedikit menurun menjadi Rp55 juta. Tadinya Hendra berpikir bahwa dengan turunnya perolehan laba bersih, setoran pajak juga akan ikut turun. Setelah membuka-buka buku Undang-Undang Pajak Penghasilan terbaru yang baru dua minggu dibelinya dari sebuah toko buku di Cinere, dia mendapatkan bahwa tarif pajak penghasilan yang berlaku untuk Wajib Pajak Badan tahun pajak 2009 adalah 28% dan akan turun menjadi 25% mulai tahun 2010. Menurut ketentuan perpajakan, PT Arthamedia Sukses Makmur tergolong Wajib Pajak Badan, sehingga tarif pajak yang berlaku dalam tahun pajak 2009 adalah 28%.

Berdasarkan kalkulasi yang dilakukannya, dengan laba bersih Rp55 juta (turun Rp5 juta dari tahun lalu), pajak yang terutang melonjak menjadi Rp15,4 juta. Angka ini didapat dengan mengalikan tarif 28% dengan Rp55 juta. Hasil ini sempat mengagetkannya. Betapa tidak. Penurunan laba bersih yang dialaminya justeru menghasilkan lonjakan pajak lebih dari dua kali lipat. Sejurus Hendra terdiam. Ingatannya melayang pada nasehat seorang kawannya, bahwa membayar pajak sebaiknya dilakukan dengan penuh rasa syukur. Lonjakan setoran pajak seyogyanya disyukuri. Hendra bersyukur, walaupun laba bersihnya turun dari tahun lalu, kontribusinya kepada negara meningkat dua kali lipat lebih. Seluruh jiwanya diselimuti rasa syukur yang mendalam, bahwa sebagai warga negara, kontribusinya akan meningkat tahun ini.

Di tengah-tengah rasa sykurnya, Hendra tergerak untuk menghubungi kawannya lagi. Kawannya ini kebetulan bekerja di instansi pemerintah, tetapi sekaligus juga seorang dosen pajak di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Menurut kawannya ini, perhitungan Hendra keliru. Berhubung peredaran usahanya masih di bawah Rp50 miliar, perusahaan Hendra mendapatkan insentif berupa diskon tarif 50%. Hal ini berarti tarif yang dikenakan adalah 14%, bukan 28% sebagaimana perhitungan di atas. Kawannya menjelaskan bahwa menurut Pasal 31E UU Pajak Pengahsilan terbaru yang mulai berlaku 1 Januari 2009, untuk Wajib Pajak Badan yang memiliki peredaran bruto kurang dari Rp 50 miliar setahun, mendapat diskon tarif sebesar 50% yang diterapkan pada Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar.

Berhubung peredaran bruto masih Rp250 juta (angka ini masih di bawah Rp4,8 miliar), maka atas penghasilan kena pajak (laba bersih) perusahaan Hendra berlaku tarif 14%. Besarnya pajak terutang atas laba bersih Rp55 juta menjadi Rp7,7 juta. Jumlah ini jauh di bawah hitungan semula. Namun demikian, pembayaran pajak tahun 2009 ini masih lebih tinggi Rp1,2 juta dibandingkan jumlah pajak tahun 2008 atau mengalami kenaikan sebesar 18%.

Menjumpai fakta ini, Hendra tetap besykur karena kontribusinya kepada negara tetap naik, walaupun telah mendapatkan fasilitas. Betapa girangnya hati Hendra atas kenaikan kontribusi ini. Dia bermaksud untuk melaporkan kondisi ini kepada petugas pajak di kantor pajak tempat perusahaannya terdaftar. Karena sudah kenal, Hendra segera menghubungi lewat telepon petugas pajak yang namanya Anton. Anton ini merupakan seorang Account Representative yang bertugas memberikan konsultansi perpajakan kepada para wajib Pajak di wilayahnya. Di samping memberikan konsultansi, Anton juga diberi kepercayaan untuk mengawasi kewajiban perpajakan para Wajib Pajak yang menajdi tanggung jawabnya.

Anton agak kaget saat menerima laporan dari Hendra. Semu merah merona di wajahnya. Walau sudah hampir setahun UU Pajak Penghasilan ini berlaku, Anton belum sempat mendalaminya. Anton baru tahu kalau ada insentif berupa diskon tarif ini. Setelah menutup pembicaraan dengan Hendra, dia segera menanyakan dengan beberapa temannya sesama AR (Account Representative). Setali tiga uang. Teman-temannya juga baru tahu kalau ada ketentuan seperti itu. Beberapa temannya bahkan menanyakan perlunya surat permohonan dari Wajib Pajak untuk mendapatkan diskon tersebut. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertanya dulu kepada seorang kawan satu angkatannya yang saat ini sedang bertugas di bagian peraturan.

5 comments on “Syukurlah, Setoran Pajak Tahun Ini Meningkat

  1. berarti rakyat bisa lebih sejahtera donk pak Nyoman….

  2. AR-e terlalu sibuk nggali potensi, kalo ditanya sesuatu yg berpotensi mengurangi penerimaan ya jelas kaget lah….pas rapat pembinaan yg dibahas cuma pasal2 yg berpotensi menambah penerimaan. insentif? fasilitas? forget it!

  3. @anonymous:
    benar. rakyat akan lebih sejahtera dan bahagia jika masyarakat membayar pajak sebagai wujud rasa syukurnya atas keberlimpahan penghasilan yang diterimanya.
    @maz ipunx:
    yang namanya win-win solution antara pemerintah dan rakyat, dari sisi pemerintah sebaiknya win dulu rakyat (pembayar pajak), baru memikirkan win nya pemerintah. Insentif yang ada, sebarluaskan, shg makin banyak yg bisa memanfaatkan.

  4. jago nulis nih Bli Nyoman
    thank u atas ilmunya….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: