Tinggalkan komentar

Hari Kemerdekaan RI: Sudahkah Kita Merdeka?

Beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, tepatnya tanggal 17 Agustus 2009. Kata “merdeka” mengandung arti “bebas”. Indonesia merdeka berarti Indonesia bebas dari segala bentuk penjajahan. Sudah enam puluh empat tahun bangsa ini merdeka. Bagaimana dengan diri kita sendiri? Sudahkah kita mencapai kemerdekaan?

Salah satu hak hakiki yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah hak untuk bebas (merdeka) menentukan pilihan-pilhan.  Pilihan-pilihan ini  senantiasa ada di hadapan kita dan kita diberikan kebebasan untuk memilihnya. Karena kita diberikan kebebasan, maka kita harus pandai dan bijak dalam menentukan pilihan. Sekali sudah menentukan pilihan, kita harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Seringkali kita mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita merupakan faktor yang menyebabkan kita sedih, kecewa, dan marah, ataupun senang, gembira, dan bahagia. Padahal, kalau kita renungkan lebih dalam, bukan peristiwa-peristiwa itu sebagai faktor penyebabnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sesungguhnya “netral” adanya, tidak ada artinya, kecuali kita sendiri yang memberikan arti. Hal ini mengandung makna yang sangat dalam. Apapun peristiwanya, kita bebas memilih respon terhadap peristiwa tersebut. Apakah mau sedih, kecewa, atau marah? Ataukah kita memilih untuk senang, gembira, dan bahagia? Semuanya tergantung pilihan kita.

Sebagai contoh nyata adalah pada saat anak kecil menjatuhkan gelas ke lantai dan gelasnya pecah. Peristiwa jatuh dan pecahnya gelas sudah terjadi. Begitu orang tuanya tahu peristiwa itu, dengan serta merta orang tuanya memarahi anaknya hingga anaknya menangis. Atas peritiwa tersebut, orang tuanya memilih respon marah dan anaknya memilih respon menangis. Apakah dengan memilih “marah” bisa menjadikan gelas yang sudah pecah menjadi utuh kembali? Tentu jawabannya tidak. Dalam peristiwa ini, sebaiknya orang tuanya memilih respon tenang, tidak marah, dan malahan mendekati anaknya untuk memberi nasihat agar anaknya lebih hati-hati di kemudian hari.

Respon marah, di samping bisa membuat anaknya menangis, juga berdampak negatif terhadap diri orang tuanya. Kemarahan akan mengganggu sirkulasi darah. Tensi darah akan naik dan berdampak pada fungsi jantung. Sebaliknya, pilihan respon untuk tetap tenang tidak membuat anaknya menangis dan tidak berdampak negatif terhadap sirkulasi darah dan jantung.

Masih banyak peristiwa lainnya yang sering terjadi di sekitar kita. Sebenarnya kita diberikan kebebasan untuk memilih respon terhadap peristiwa itu. Sering kita tidak menyadari kebebasan ini, sehingga kita lebih sering memberikan respon yang sejatinya berdampak negatif terhadap diri kita. Respon marah, sedih, kecewa, kesal dan sejenisnya adalah respon yang berdampak tidak baik buat diri kita. Sebaliknya, respon tenang, senang, gembira, bersyukur, bahagia, dan sejenisnya akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Karena kita diberi kebebasan untuk memilih respon, maka pilihlah respon yang menjadikan diri kita lebih baik, lebih kuat, lebih semangat, dan sejenisnya.

Sebagai bahan renungan merayakan Hari kemerdekaan Republik Indonesia, satu pertanyaan yang mesti duicari jawabannya adalah: SUDAHKAH KITA MERDEKA?

Salam Merdeka!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: