1 Komentar

Buah Ketidaksetiaan

Rupanya kesetiaan tidak hanya diperlukan dalam hubungan manusia dengan manusia, tetapi juga diperlukan dalam hubungan yang lain. Selama ini kita diajarkan untuk setia pada kekasih (bagi yang belum kawin) atau setia pada istri/suami bagi yang sudah kawin. Ternyata ada bentuk kesetiaan yang lain. Setia pada jurusan ilmu yang digeluti.

Sewaktu SMA dulu saya memilih jurusan A1 karena saya senang dengan Matematika dan Kimia. Saat itu justeru saya kurang menyukai Fisika. Aneh memang. Memilih jurusan A1, tetapi kurang menyukai Fisika. Lain halnya dengan Matematika dan Kimia. Kedua pelajaran ini sangat saya sukai. tiada hari tanpa latihan Matematika.

Setamat SMA dengan jurusan A1, bukannya melanjutkan ke Jurusan Teknik Kimia atau jurusan IPA lainnya, malahan memilih jurusan Akuntansi dan diterima di STAN. Selama kuliah di STAN, ilmu Kimia apalagi Fisika sudah tentu tidak dipergunakan lagi. Hanya Matematika yang setiap hari digunakan. Itu pun lebih sering menggunakan kalkulator.

Setelah menamatkan Diploma III Akuntansi, praktek sebagai Tax Auditor pun dijalani selama dua tahun lebih. Kemudian melanjutkan kembali ke STAN untuk menempuh program Diploma IV Akuntansi, sehingga akhirnya jadilah saya seorang Akuntan. Menjadi seorang Akuntan saja ternyata tidak cukup. Saya pun ikut Ujian Sertifiaksi Akuntan Publik dan lulus, sehingga berhak menulis  “C.P.A.” di belakang nama.

Seiring dengan perjalanan karier, keinginan melanjutkan kuliah pun muncul. Kebimbangan pun menghampiri. Di satu pihak ingin memperdalam dunia Akuntansi, tetapi di pihak lain timbul perasaan bahwa ilmu akuntansi sudah cukup dipelajari hingga menjadi seorang Akuntan, apalagi ditambah dengan sudah lulus sertifikasi akuntan publik.

Akhirnya, pilihan jatuh pada ilmu hukum.

Mengapa berbelok ke bidang hukum? Dunia pajak yang saya geluti selama ini merupakan dunia yang unik. Di satu pihak, pajak merupakan produk hukum (undang-undang), tetapi di lain pihak, pajak juga memerlukan ilmu akuntansi, khususnya dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak. Kalau saya meneruskan mendalami administrasi perpajakan, pandangan saya waktu itu, dengan praktek langsung dan disertai banyak diskusi, lama-kelamaan akan paham juga. Jadi, ilmunya tidak perlu dicari di bangku kuliah. Cukup lewat praktik saja.

Setelah menggeluti ilmu hukum, khususnya hukum bisnis, mulailah saya menyenangi dan bahkan mencintai bidang hukum ini. Kontradiksi kehidupan mulai menyeruak ke permukaan. Sebagai Ketua Program Studi Akuntansi di STIE Tunas Nusantara Jakarta, saya malah merencanakan untuk melanjutkan kuliah  S3 bidang hukum. Saya ingin mendalami bidang ilmu yang satu ini.

Saya pun mendaftar kuliah S3 di universitas ternama, Universitas Indonesia. Tes tertulis sudah saya lewati dengan meyakinkan. Selanjutnya adalah tes wawancara dan ujian proposal riset.  Nah, saat tes wawancara yang diadakan siang hari tadi, kenyataan berbicara lain. Saya di-TOLAK mentah-mentah karena latar belakang S1 saya bukan Sarjana Hukum. Hanya Sarjana Hukum yang bisa melanjutkan Program Doktor Ilmu Hukum. Karena saya bukan Sarjana Hukum, maka ujian proposal riset ditiadakan. Saya pun GAGAL kuliah di UI.

Saya gagal karena tidak setia pada disiplin ilmu. Itulah buah sebuah ketidaksetiaan.

One comment on “Buah Ketidaksetiaan

  1. Wah, jadi kepikiran nih Pak, what am i supposed to do? Brarti saya harus mengambil s1 di IKJ, (cus accounting is not my passion!), biar s3 nya ntar tetep nyambung.
    *emang mu ngambil s3 apa jok?
    (ngomonggajelas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: