2 Komentar

Menjadi Presiden atau Pesinden : Sebuah Pilihan Hidup

Mengapa seorang Susilo Bambang Yudhoyono, putera Pacitan, bisa menjadi Presiden Republik Indonesia? Mengapa pula Susilowati, kelahiran Wonogiri, sepanjang hidupnya hanya menjadi seorang pesinden di desanya? Apakah ini membuktikan bahwa Tuhan berlaku tidak adil terhadap umatnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada baiknya kita merenung sejenak, melakukan perjalanan ke dalam diri kita sendiri.

Sejatinya, Tuhan adalah Maha Adil. Pada saat lahir, kita dianugerahi potensi yang sama, yang sesungguhnya hebat nan superdahsyat, tanpa batas. Yang membatasi hanyalah pikiran-pikiran kita yang membatasi. Berbagai pertanyaan maupun pernyataan bertubi-tubi kita lontartkan terhadap diri kita: bagaimana jadinya kalau saya gagal?, saya pasti tidak bisa, saya memang keturunan orang tidak sukses, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semuanya itu terus menggerogoti potensi diri kita yang semula hebat nan superdahsyat, menjadi terbatas, kerdil, dan tidak berkembang.

Sebagai manusia, kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk hidup lainnya. Kita mempunyai kelebihan berupa pikiran yang kalau kita berhasil mengelolanya secara optimal, dapat menjadi kekuatan hebat nan superdahsyat. Pikiran yang terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar mempunyai sifat seperti magnet yang terus memancarkan energinya ke alam semesta. Seperti halnya magnet, pikiran-pikiran kita akan menarik segala sesuatu yang ada di alam semesta harmoni dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Inilah yang disebut Hukum Tarik Menarik (Law of Attraction). Hukum ini bersifat universal dan berlaku netral.

Dalam keseharian kita, yang sering terlintas dalam pikiran kita lebih banyak hal-hal yang tidak kita inginkan dari pada hal-hal yang kita inginkan. Kita sering khawatir bahwa sesuatu yang tidak kita inginkan akan terjadi pada diri kita. Karena kekhawatiran tersebut sering terpikir, maka apa yang kita khawatirkan akan menjadi fokus kita. Karena fokus, energi yang terpancar akan lebih kuat. Sesuai dengan Hukum Tarik Menarik, kita akan menarik hal-hal yang kita khawatirkan untuk terjadi pada diri kita.  Sebaliknya, kalau kita bisa memilih untuk fokus pada hal-hal yang memang kita inginkan dan kita terus meyakininya, maka kita akan mendapatkan hal-hal yang kita inginkan tersebut.

Di samping Hukum Tarik Menarik (Law of Attraction), kita juga mengenal Hukum Sebab Akibat (Law of Cause and Effect). Hukum ini juga bersifat universal dan netral. Menurut hukum ini, setiap akibat pasti ada sebabnya. Apapun yang terjadi pasti ada penyebabnya.

Menjadi apa kita sekarang dan di mana kita sekarang adalah hasil dari pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kita di masa lalu. Kita berada di tempat ini sekarang (siang ini) merupakan hasil pilihan kita tadi pagi di rumah. Dari beberapa pilihan yang ada kita memutuskan untuk hadir di tempat ini dan tindakan kita adalah berangkat menuju tempat ini.

Kalau kita mengakui dan meyakini Hukum Sebab Akibat ini, maka kita bisa memilih masa depan kita. Menjadi apa kita di masa mendatang adalah hasil dari pilihan kita saat ini, hasil dari keputusan kita saat ini, dan hasil dari tindakan-tindakan kita saat ini.

Marilah kita rancang masa depan kita sesuai dengan pilihan kita saat ini. Marilah kita putuskan akan menjadi apa kita di kemudian hari. Marilah kita pilih tindakan-tindakan yang mendukung pilihan dan keputusan kita. Akhirnya, apakah kita mau menjadi Presiden ataukah Pesinden,  itu hanyalah sebuah pilihan hidup.

2 comments on “Menjadi Presiden atau Pesinden : Sebuah Pilihan Hidup

  1. apa kabar bli…..
    salam sudah disampaikan ke om yusan.
    btw…
    nemu blog bli ini dr searching “presiden atau pesinden”
    tenyata banyak juga yang nulis tentang dua profesi ini.. sepertinya menarik untuk menulis ttg “kemiripan yang kontradiktif” (mirip dalam lafal namun kontradiktif dalam fakta) .
    seperti : Direktur vs Kondektur, Jendral vs Kopral, Capcai vs Bajai, Dokumen vs Doku..Man!, Dokter vs Monster, dsb, dsb…
    Apalagi kalo dikemas dengan gaya komedi, dialog yg humanis tapi cukup menyentil sbg kritik sosial .
    ditunggu karya-karya populernya bli !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: