Tinggalkan komentar

Pagi Yang Membahagiakan

Sesaat sebelum membuka kelopak mata, aku sudah terjaga dari tidur lelap semalaman. Seketika itu aku teringat nasihat sebuah buku untuk selalu tersenyum pada saat bangun tidur di pagi hari. Perlahan-lahan aku gerakkan bibirku supaya membentuk sebuah senyum yang manis. Sambil tersenyum aku buka kelopak mataku untuk kembali menatap dunia. Dengan senyum di bibir, pikiranku membayangkan betapa indahnya dunia ini, betapa cerianya dunia menyambutku. Segera aku bergegas duduk bersila di atas tempat tidur. Kutarik nafas dalam-dalam, kemudian aku tahan sesaat, untuk kemudian kuhembuskan keluar. Tarik, tahan, dan hembuskan.

Itulah yang aku ulangi terus-menerus sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Aku bersyukur karena mempunyai seorang istri yang dengan setia mendampingiku dengan penuh pengertian. Aku dianugerahi dua orang anak yang cerdas, rajin, bertanggungjawab, dan patuh pada nasihat orang tua. Aku mensyukuri penghasilanku yang berlimpah, sumber-sumber penghasilan semakin bertambah, hidup berkelimpahan sukses, keluarga yang ceria, bahagia, dan sejahtera, serta masih banyak lagi hal-hal yang mesti kusyukuri.

Karena aku sudah memutuskan bahwa ritual ini kulakukan di pagi hari hanya sekitar sepuluh menit, maka segera kubergegas menghampiri istriku yang masih tidur terlelap di sampingku. Aku kecup keningnya sambil mengucap: “I Love You”. Istriku terjaga dari tidur nyenyaknya sambil tidak lupa menyungging seuntai senyum menawan, seraya berbisik:”I Love You, too”.

Istriku duduk dengan tenang, matanya terpejam. Sepintas kuperhatikan dia sedang berdoa mengucap syukur. Seperti biasanya, kami bekerja sama merapikan selimut, seprei, dan membetulkan letak bantal. Istriku lebih sigap lagi karena dengan gesitnya sudah membuka ketiga jendela kamar tidur. Rupanya sinar mentari dengan malu-malu sudah mulai menyinari dunia, merasuk ke kamarku lewat jendela. Kulirik jam di dinding, ternyata sudah pukul 05.30.

Karena hari ini hari Sabtu, aku tidak mesti buru-buru berkemas untuk berangkat kerja. Kulangkahkan kakiku menuju kamar kedua anakku. Sebelum mengetuk pintu, kuperhatikan kedua jendela kamar Satwika, anak pertamaku, sudah terbuka. Ini pertanda bahwa dia sudah bangun. Tidak seperti teman sebayanya yang biasa bangun siang, terlebih-lebih pada hari libur, jagoanku ini sudah terbiasa bangun pagi, tidak terkecuali hari libur. “Silakan masuk, Papa!”, terdengar suara nyaringnya dari kamar. Kudapati dia sedang serius baca buku.

Kusebarkan pandanganku ke seluruh kamar. Aku kagum pada kedisiplinannya. Tempat tidurnya rapi, selimut dan bantalnya pun tertata rapi. Tidak seperti cerita kawanku. Anaknya hanya semata wayang. Lelaki, umurnya sebaya Satwika. Bangun tidur anaknya itu langsung bermain PS. Kamarnya berantakan. Setiap hari bisanya menyuruh pembantu untuk membereskan kamarnya. Aku bersyukur karena Satwika berbeda dengan anak temanku itu. Walaupun hari ini libur, dia tetap melakukan ritual rutinnya: merapikan kamar.

Aku bangga melihat dia rajin membaca buku. Kutanamkan padanya bahwa buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. Perlahan-lahan kututup kembali pintu kamarnya. Aku tidak mau mengganggu keasyikannya melahap ilmu pengetahuan.

Kini giliranku menyambangi kamar adiknya yang masih duduk di kelas dua SD. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, aku menjumpai gadis kecilku ini sedang asyik menulis. Di samping rajin membaca buku, anakku yang satu ini punya kegemaran menulis cerita. Kata-katanya mengalir bak aliran air sungai. Walau masih duduk di bangku kelas dua SD, tetapi tulisannya lebih bagus dari anak SMP. Aku bangga padanya. Disiplinnya tinggi. Begitu memasuki kelas dua SD, dia rapikan sendiri kamarnya.

Pagi itu kuperhatikan kedua jendela kamarnya sudah terbuka, selimut sudah dilipat dengan rapi, begitu juga seprei dan bantalnya. Betapa bahagianya aku mempunyai dua orang anak yang penuh disiplin. “Maaf, ya Papa. Echa mau menyelesaikan PR cerita yang ditugaskan Ibu Nadya. Tinggal setengah halaman lagi”. Tiba-tiba kudengar suara merdunya.

Ya, Tuhan. Tiada hentinya hamba mengucap syukur kehadapan-Mu. Terlebih-lebih pada pagi hari yang membahagiakan ini…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: