2 Komentar

Yakin, Tetapi Tidak Terima

Ternyata yakin saja tidak cukup. Kita juga harus bisa menerima bahwa apa yang kita yakini benar-benar terjadi. Yang sering kita lakukan selama ini adalah meyakini sesuatu itu bakal terjadi, tetapi kita tidak/belum menerimanya.

Pengalaman kemarin merupakan contoh nyata dari pernyataan di atas.

Pusat Perpajakan Tunas Nusantara (Tunas Nusantara Tax Center) membuka kelas Pelatihan Perpajakan Setara Brevet A&B dan angkatan pertama dimulai Sabtu, 18 Oktober 2008.

Promosi tidak begitu gencar dilakukan, bahkan brosurnya pun belum dicetak. Promosi baru dilakukan oleh saya sendiri dan seorang staf yang kebetulan adalah keponakan saya. Namanya Tami. Kami baru berpromisi lewat networking saya dan Tami melakukannya via fax dan blog-nya. Saya sendiri belum memanfaatkan blog ini untuk berpromosi.

Sedari awal saya ingin menerapkan ilmu yang saya dapatkan dari film “The Secret”, yaitu INGINKAN, YAKINI, dan TERIMA.

Pertama-tama saya minta staf saya untuk mengINGINkan mendapatkan peserta hingga 20 orang. keinginan tersebut saya minta untuk ditulis tangan di atas kertas. Kalau saya sendiri sudah pasti menginginkannya, bahkan di atas 20 orang.

Setelah menulis keinginannya, saya minta dia untuk yakin bahwa peserta yang daftar akan mencapai 20 orang bahkan lebih. Artinya, yakin akan ada peserta minimal 20 orang. Saya juga yakin untuk bisa mencapai target tersebut.

Dalam perjalanan waktu, staf saya yang juga keponakan saya, beberapa kali goyah keyakinannya, namun saya masih bisa meyakinkan dia untuk tetap yakin pada keyakinan awal.

Dua hari menjelang ahri H saya minta kepada instruktur untuk memperbanyak modulnya sebanyak 22 buah. Artinya saya tetap yakin angka 20 peserta terlampaui, tetapi lebihnya hanya 2 peserta.

Satu hari menjelang hari H, saya kembali tanya kepada staf saya, berapa jumlah peserta yang sudah daftar, minimal sudah menyerahkan formulir. Ternyata jawabannya baru 14 orang, tetapi masih ada yang komitmen (beluim menyerahkan formulir) per telepon sekitar 6 atau 7 orang.  Waktu saya tanya berapa nasi kotak yang dipesen, ternyata hanya 14 kotak sesuai dengan banyaknya peserta yang betul-betul daftar.

Pada hari H, Sabtu, 18 Oktober pagi-pagi saya sudah berangkat ke kampus. Tiba di kampus pukul setengah delapan kurang, padahal pelatihan dimulai pukul delapan. Saya lihat daftar absen peserta memang benar nama-nama peserta yang diketik hanya 14 orang, sedangkan sisanya hingga nomor 20 dikosongkan.

Saya kemudian cek ke ruang kelas. Setelah saya hitung, jumlah kursi yang disediakan hanya 14 kursi. Hal ini berarti sesuai dengan jumlah peserta yang sudah mengirinkan formulir.

Saat itu juga saya jelaskan bahwa inilah contoh nyata dari kejadian “kita yakin, tetapi tidak terima”. Kita yakin bahwa peserta akan ada minimal 20 orang, tetapi kita hanya membuat daftar peserta hanya 14 orang. Kita yakin peserta di atas 20 orang, tetapi kita hanya memesan nasi 14 kotak. Kita yakin bisa menghadirkan peserta lebih dari 20 orang, tetapi kursi yang disiapkan hanya 14 orang. Semuanya itu berarti kita hanya yakin saja. Kita tidak bisa menerima keyakinan kita.

Akhirnya, saya minta office boy untuk menambah kursi hingga berjumlah total 22 kursi. Artinya saya masih punya keyakinan bahwa peserta akan berjumlah 22 orang. Setelah diatur sana-sini dan saya ikut juga mengaturnya, kursi maksimal yang tertampung hanya 21 kursi. Saya juga minta pesanan nasi kotak ditambah hingga 22 kotak karena saya masih punya keyakinan bahwa target akan tercapai.

Setelah pelatihan saya buka, total peserta yang hadir 18 orang, tetapi siang harinya datang satu orang lagi, sehingga jumlah total 19 orang. Setelah ditelusuri, ada dua orang lagi yang sudah menyerahkan formulir, tetapi hari itu berhalangan hadir, sehingga total menjadi 21 orang. Terakhir, ada juga seorang calon peserta dari Universitas Sahid (mahasiswa saya sewaktu ngajar di Fakultas Hukum) yang ngebet pingin ikut, tetapi memang belum menyerahkan formulir, hari itu tidak datang. Padahal pagi-pagi dia telepon saya untuk menanyakan rute ke Kampus STIE TN. Kalau dia juga ikut dihitung berarti total peserta adalah 22 orang.

Walaupun saya minta untuk menyiapkan modul sebanyak 22 eksemplar, tetapi hanya disiapkan 21 buah. Walaupun saya minta menyiapkan kursi 22 buah, tetapi hanya muat 21 kursi.

Kalau total yang datang 19 orang ditambah 2 orang yang sudah menyerahkan formulir, tetapi berhalangan hadir, berarti total peserta 21 orang. Jumlah ini sama dengan jumlah modul yang disiapkan dan juga sama dengan jumlah kursi yang tersedia.

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa yakin saja tidak cukup untuk mewujudkan keyakinan kita. Kita perlu sikap menerima apa yang kita yakini.

2 comments on “Yakin, Tetapi Tidak Terima

  1. OM Swastyastu Pak,
    Pak rupanya seorang blogger juga ya…
    salam blogger…

  2. Saya sangat setuju dengan Bapak. Tp Bapak juga harus yakin dan bisa meyakinkan orang lain bila Bapak ada masalah atau katakanlah itu terbentur pd suatu masalah yang benar-benar tidak Bapak lakukan. Bapak jangan lemah dan Low of Attraction (maaf bila salah eja) akan bekerja seperti yg sering Bapak ajarkan kepada kami semua mahasiswa Bapak. Okey Pak, sukses dan salam dahsyat selalu. GBU!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: