1 Komentar

Oleh-Oleh dari Jogyakarta

Siang itu matahari seakan-akan marah kepada bumi. Pancaran sinarnya yang teramat panas kontras sekali dengan hari-hari sebelumnya. ”Aduuuh panasnya minta ampun”, keluhku pada Pak Win, sopir jemputan yang dengan setianya mengantar dan menjemputku ke sekolah tiap hari.

Pak Win memang pintar menenangkan kami yang lagi kepanasan. Dengan ceritanya yang lucu, kadang diselingi petuah-petuah sederhana, membuat kami lupa akan penatnya siang itu.

”Hati-hati ya, Wika! Sampai jumpa besok pagi”, sapanya sambil pelan-pelan menjalankan mobil kijang tahun sembilan puluhan yang dengan setia menemani kami pergi dan pulang sekolah.

Aku segera bergegas memasuki rumah. Aku agak kaget melihat mobil papa masih dalam garasi. Biasanya jarang kujumpai mobil itu di dalam garasi. Pagi-pagi sekali papa sudah berangkat ke kantor, sementara aku baru beringsut dari tempat tidur sembari merapikan selimut dan membetulkan letak bantal. Sementara malam harinya, pada saat aku sudah terlelap sambil memeluk bantal, papaku baru datang dari berbagai aktivitasnya di luar rumah.

Setelah meletakkan sepatu dengan rapi di lemari dekat garasi, aku mengganti pakaian sekolah dengan pakaian sehari-hari dirumah. Kulihat di atas meja makan beberapa kotak dan bungkusan. Setelah kuamati, ternyata itu semua oleh-oleh dari papa yang belum sempat dibuka. Aku baru ingat kemarin pagi-pagi sekali papa pergi ke Jogyakarta. Rupanya papa masih tertidur pulas di sofa ruang keluarga, sementara TV masih tetap menyala.

Dengan maksud agar tidak mengganggu lelapnya tidur papa, aku berusaha menyantap makanan yang tersedia di meja makan dengan hati-hati, sehingga tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membangunkannya. Setelah menyelesaikan ritual makan siang, aku menuju ruang keluarga dan duduk di salah satu sofa yang kosong dekat sofa tempat papa tertidur. Aku tidak bermaksud membangunkannya. Aku hanya ingin menonton TV yang sedari tadi tetap menyala.

”Ah..kamu sudah pulang rupanya, Wika?” desah papa sambil menguap dan mengucek-ucek matanya. ”Apa khabar, Papa?” timpalku. ”Bagaimana peserta seminarnya?” Apakah banyak pertanyaan yang diajukan? Apakah Papa bisa dengan tangkas menjawabnya?” tanyaku lagi tanpa sempat memberikan kesempatan kepada papa untuk menjawabnya satu per satu.

Akhirnya papa menceritakan perjalanannya ke Jogyakarta dari kemarin pagi. Pagi-pagi naik pesawat. Tiba di Bandara Adisucipto, papa dijemput oleh Panitia Seminar dan segera diajak ke lokasi seminar. Peserta seminar rupanya sudah banyak yang hadir. Dengan istirahat kurang lebih lima belas menit, papaku segera dipersilakan untuk segera ke podium untuk memberikan materi seminar. Menurut papa, peserta seminarnya lumayan banyak dan diperkirakan lebih dari seratus orang. Pesertanya juga sangat aktif dalam mengajukan pertanyaan, tetapi semua pertanyaan dapat dengan tangkas dijawabnya.

Seminarnya sendiri hanya sampai pukul 16.00. Papa dipersilakan istirahat dulu di kamar. Malam harinya papa diajak keliling Jogyakarta sambil menikmati makan malam secara lesehan di Jalan Marlioboro. Setelah makan malam, papa masih diajak berkeliling lagi. Tidak lupa panitia juga mengajak mampir untuk membeli oleh-oleh. Rupanya semua oleh-oleh dibelikan oleh panitia. Papa tidak diperbolehkan untuk membayar sendiri.

Sambil bercerita, papa juga memintaku untuk membuka bungkusan yang diletakkan di atas meja makan. Papa mempersilakan aku mencicipi makanan yang kusuka, yaitu bakpia. Papa juga membawa makanan khas Jogya, yakni gudeg. Aku tidak begitu menyukainya karena makanan yang satu ini rasanya sedikit manis.

Tidak seperti biasanya, kali ini kuberanikan diri untuk menanyakan berapa panitia memberikan honor buat papaku. Papa bersykur sekali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena panitia memberikan honor sebesar Rp7.500.000,00. Dalam suasana hati penuh syukur, papa juga membersitkan kekecewaannya karena ternyata panitia tidak memotong pajak atas honor tersebut.

Panitia mengadakan seminar tentang pajak, tetapi mereka sendiri tidak taat dalam melakukan kewajibannya sebagai wajib pajak. Papaku menjelaskan bahwa seyogyanya panitia memotong PPh Pasal 21 atas honor yang dibayarkan kepada papa. Besarnya adalah 5% dari honor yang dibayarkan sebesar Rp7.500.000,00, sehingga pajak yang seharusnya dipotong adalah Rp375.000,00. Dengan demikian, papaku seharusnya membawa pulang uang honor bersih Rp7.125.000,00.

Tarif PPh Pasal 21 atas honorarium sebenarnya bersifat progresif, yaitu 5% untuk honor sampai dengan Rp25.000.000,00, 10% untuk honor di atas Rp25.000.000,00 sampai dengan Rp50.000.000,00, 15% untuk honor di atas Rp50.000.000,00 sampai dengan Rp100.000.000,00, 25% untuk honor di atas Rp100.000.000,00 sampai dengan Rp200.000.000,00, dan 35% untuk honor di atas Rp200.000.000,00.

Papaku menambahkan bahwa sudah menjadi kewajiban bagi pihak yang membayarkan honor untuk memotong pajak penghasilan. Negara minta tolong kepada pihak yang membayarkan untuk memotong dan kemudian menyetorkannya ke kas negara paling lambat pada tanggal 10 bulan berikutnya setelah terjadinya pembayaran. Inilah yang disebut ”withholding tax system”.

Sistem pemajakan ini berdasarkan pada prinsip bahwa saat yang paling tepat dan nyaman untuk memajaki seseorang adalah pada saat orang tersebut menerima penghasilan. Jika penghasilan tersebut sudah sempat masuk kantong maupun rekening bank si penerima, negara/pemerintah khawatir pada akhir tahun nanti orang tersebut tidak akan (lupa) menghitung, menyetor, memperhitungkan, dan melaporkannya dalam SPT Tahunan. Oleh karena itu, pemerintah/negara berdasarkan undang-undang mewajibkan kepada pihak yang membayarkan honorarium untuk selalu memotong pajak penghasilan. Menurut papa, pajak yang dipotong ini sebenarnya dapat diperhitungkan pada saat mengisi SPT Tahunan PPh di bulan Maret tahun depan.

”Bagaimana jika panitia tidak memotongnya?” tanyaku. ”O, kamu tidak usah khawatir. Papa pasti melaporkannya dalam SPT Tahunan. Papa akan bayar pajak yang seharusnya terutang”.

Aku sangat bangga pada papaku karena bisa memberikan contoh kepada wajib pajak lainnya untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik dan benar. Aku yakin suri tauladan yang dicontohkan papaku akan semakin banyak diikuti oleh masyarakat lainnya. Aku yakin orang akan semakin bergairah untuk membayar pajak.

One comment on “Oleh-Oleh dari Jogyakarta

  1. Saya baru baca lagi blog bapak setelah sekian lama!Trus saya baca cerita diatas.Bagus juga ternyata “perpajakan”bisa dibuat dalam bentuk cerita.Memudahkan para pembaca dalam pemahaman dan juga mungkin membuat lebih lekat diingatan.
    Bagus pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: