1 Komentar

Menyumbang Dengan Ikhlas, Anda Dapat Keringanan Pajak.

Masih ingat konsep “memberi” yang pernah saya tulis dalam Memberi atau Menukar? Kalau perlu, silakan Anda membaca dulu artikel tersebut sebelum melanjutkan membaca tulisan ini. Walaupun tulisan ini termasuk kategori “Perpajakan”, saya akan mencoba untuk melihatnya dari sisi lain.

Menyumbang termasuk pengertian memberi, bukan menukar. Pengertian sumbangan sendiri adalah pemberian sesuatu dengan tulus ikhlas kepada pihak lain dengan tujuan untuk meringankan beban/penderitaan orang yang menerima. Misalnya ada suatu bencana di suatu daerah. Orang-orang yang tertimpa bencana tentunya membutuhkan pertolongan untuk meringankan beban mereka. Pemberian kepada mereka inilah dinamakan sumbangan.

Sumbangan yang diberikan tentunya harus didasari perasaan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan, baik imbalan langsung dari pihak yang menerima, maupun imbalan secara tidak langsung dari pihak lain (ketiga).

Nah, bagaimana perlakuan perpajakan khususnya Pajak Penghasilan terhadap sumbangan ini. Mumpung mulai tahun 2009 nanti kita akan menggunakan Undang-Undang baru yang saat ini dalam proses pemberian nomor (disahkan) oleh Pemerintah.

Dalam ketentuan lama, segala bentuk sumbangan tidak boleh dibiayakan. Konsepnya waktu itu adalah menyumbang harus dilakukan dengan tulus ikhlas. Artinya, kalau kita sudah ikhlas memberikan sumbangan, kita tidak perlu lagi mengkait-kaitkan dengan pajak. Kita tidak perlu lagi meminta kepada negara agar kita dapat keringan pajak gara-gara kita telah menyumbang. Kalau mau menyumbang, menyumbanglah secara pribadi tanpa harus meminta negara untuk ikut membantu kita (dengan mengakuinya sebagai pengurang penghasilan kena pajak).

Sementara itu, dalam UU PPh yang baru, yang akan mulai berlaku 1 Januari 2009, beberapa bentuk sumbangan akan bisa dibiayakan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 6, sumbangan yang dapat dibiayakan adalah:
1. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional
2. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia
3. Sumbangan pembangunan infrastruktur sosial
4. Sumbangan fasilitas pendidikan
5. Sumbangan dalam rangka pembinaan olah raga.

Dalam Pasal 9 diatur juga bahwa zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, dapat dibiayakan.

Keenam bentuk sumbangan tersebut di atas selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Bagaimana kira-kira isi dari Peraturan Pemerintah yang keluar? mari kita lihat satu per satu.

1. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional.

Sebenarnya tanpa diiming-imingi insentif seperti ini, antusiasme masyarakat untuk menyisihkan hartanya untuk disumbangkan kepada korban bencana tidak perlu diragukan lagi. Orang akan berbondong-bondong untuk menyumbang, baik lewat media massa (radio, TV, koran, atau majalah), maupun lewat lembaga-lembaga lain.

Dalam PP nanti perlu diatur secara tegas jenis-jenis bencana yang kalau kita menyumbang, sumbangan tersebut dapat dibiayakan. Kalau menurut UU, kategori bencananya harus masuk kategori bencana nasional. Kalau hanya bencana banjir, bahkan bencana sedahsyat gempa bumi Jogjakarta beberapa tahun silam tidak termasuk kategori ini. Perlu dicatat, bencana Jogja tersebut tidak termasuk kategori bencana nasional. Singkatnya, sumbangan yang boleh dibiayakan adalah sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana yang telah ditetapkan pemerintah sebagai bencana nasional. Selain itu, tidak boleh.

Perlu juga diperhatikan apakah semua WP bisa membiayakannya. Apakah Orang Pribadi yang tidak menyelenggarakan pembukuan juga bisa? Apakah WP yang menggunakan formulir 1770-S atau 1770-SS juga bisa memanfaatkan fasilitas ini?

Di samping itu, perlu juga diatur siapa penerimanya. Apakah penerimanya langsung orang yang tertimpa bencana nasional? Ataukah perlu dibentuk badan khusus penanggulangan bencana nasional?

2. Sumbangan dalam rangka litbang di Indonesia

Kegiatan riset di negara kita memang masih memprihatinkan. Anggaran Pemerintah pun untuk kegiatan ini tidak signifikan. Oleh karena itu, pemerintah masih memandang perlu keterlibatan dunia usaha untuk membantu menggiatkan penelitian dan pengembangan di Indonesia. Mereka yang mau membantu (menyumbang) untuk kegiatan riset di Indonesia diberikan insentif pajak.

Dalam PP nanti perlu diatur persyaratan lembaga riset yang akan menerima sumbangan. Apakah lembaga riset pemerintah juga termasuk kategori ini? Apakah ada batasan jumlah?

3. Sumbangan pembangunan infrastruktur sosial

Jenis-jenis infrastruktur sosial apa saja yang termasuk kategori ini. Apakah yang terkait langsung dengan keberadaan suatu pabrik? Misalnya ada suatu perusahaan Pertambangan Batubara di Kalimantan Timur membangun infrastruktur sosial di sekitar lokasi proyek. Bukankah pembangunan infrastruktur tersebut memang dilaksanakan karena suatu keharusan (diwajibkan Pemerintah)?

Perlu dipertimbangkan juga bahwa fasilitas ini sebaiknya ditujukan untuk mendorong Wajib Pajak untuk mau memberikan sumbangan untuk pembanguna infrastruktur sosial jauh di luar lokasinya. Misalnya PT Freeport di Papua menyumbang untuk pembangunan infrastruktur sosial di Aceh, dsb.

4. Sumbangan Fasilitas Pendidikan.

Insentif ini sebenarnya cocok diberikan manakala anggaran pendidikan belum mencapai 20% dari APBN. Hingga saat ini (apalagi pada saat pembahasan draft RUU PPh tersebut di tahun 2005), kondisi bangunan gedung sekolah-sekolah khsusunya SD di daerah-daerah sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, diperlukan peran serta dunia usaha untuk membantu pembangunan fasiliats pendidikan dengan cara memberikan insentif fiskal berupa dapat dibiayakannya sumbangan fasilitas pendidikan.

Perlu diperhatikan apakah orang tua yang menyekolahkan anaknya di suatu sekolah, kemudian memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung, akan memperoleh fasilitas ini?

5. Sumbangan dalam rangka pembinaan olah raga.

Semua orang mahfum bahwa prestasi olah raga negara kita sangat jeblok dibandingkan negara-negara lain, kecuali dalam cabang bulu tangkis tentunya. Oleh karena itu, segenap lapisan masyarakat sebaiknya ikut berpartisipasi untuk mendongkrak prestasi dan prestise dunia olah raga kita. Siapa sih yang tidak kepingin “Merah Putih” dikerek dalams setiap event olah raga internasional dan disaksikan oleh masyarakat negara lain?

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan insentif kepada WP yang memberikan sumbangan dalam rangka pembinaan olah raga.

6. Sumbangan Keagamaan.

Selama ini baru zakat yang dibayarkan oleh Orang Pribadi muslim atau perusahaan yang dimiliki oleh orang muslim saja yang dapat membiayakannya dalam penghitungan pajak di akhir tahun. Umat lain, seperti Hindu, Kristen, Katolik, dan Budha belum bisa menikmatinya.

Dalam UU PPh yang akan berlaku 1 Januari 2009 semua sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di indonesia yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, akan dapat dibiayakan pada saat menghitung penghasilan kena pajak pada akhir tahun.

Penutup

Kalau kita kembali pada pembahasan di awal, hal ini tentu menjadi sesuatu hal yang sangat menarik. Apakah atas sumbangan yang kita berikan, kita masih perlu meminta kompensasi dari negara dalam bentuk insentif pajak? Bukankah kita menyumbang dengan perasaan tulus ikhlas? Kalau kita masih mengharapkan sesuatu, bukankah itu sama maknanya dengan MENUKAR?

Nah, mulai tahun 2009 nanti, pada saat menghitung kewajiban perpajakan pada setiap akhir tahun, tentunya kita akan dihadapkan pada pilihan : apakah atas sumbangan yang telah kita keluarkan, kita masih meminta kompensasi kepada negara ataukah diikhlaskan saja dengan tidak melaporkannya dalam SPT Tahunan? Anda sendiri yang memutuskannya.

Salam Superdahsyat,

INW

One comment on “Menyumbang Dengan Ikhlas, Anda Dapat Keringanan Pajak.

  1. Terima kasih sumbangan ilmunya Pak..

    Mahasiswa STAN D3K 09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: