2 Komentar

Teori Keberlimpahan Dalam Membayar Pajak

Pada tanggal 8 April lalu, pada saat memberikan kuliah Hukum Pajak di Fakultas Hukum Universitas Sahid Jakarta, saya mencetuskan teori baru dalam pemungutan pajak. Kalau selama ini yang ada dalam literatur-literatur perpajakan adalah Teori Asuransi, Teori Bhakti, Teori Gaya Pikul, dan Teori Daya Beli, saya mulai memperkenalkan teori baru yang saya sebut sebagai “Teori Keberlimpahan”.

Menurut teori ini, orang membayar pajak seharusnya dalam suasana hati yang berkelimpahan. Tidak ada sedikitpun rasa keterpaksaan dalam membayar pajak. Dengan membayar pajak kepada negara berarti kita itu memberikan sesuatu yang kita miliki kepada negara. Kalau kita memberi sesuatu kepada pihak lain, itu berarti kita memproklamasikan kepada alam semesta bahwa kita mempunyai lebih. Kita juga mengeksprersikan kepada diri kita, kepada hati dan perasaan kita bahwa kita punya lebih. Dengan demikian, akan timbul dalam diri kita perasaan berkelimpahan. Perasaan berkelimpahan ini akan terpancar ke seluruh alam semesta. Sesuai dengan hukum-hukum alam yang berlaku (antara lain law of attraction, hukum kekekalan energi, dan hukum sudut datang sama dengan sudut pantul), perasaan berkelimpahan yang kita pancarkan akan mendatangkan berlipat-lipat keberlimpahan kepada kita.

Hingga saat ini mungkin belum banyak (baca: belum ada) orang yang dengan senang hati, penuh suka cita, dan dengan perasaan penuh keberlimpahan untuk membayar pajak. Masih ada perasaan terpaksa, tidak ikhlas pada saat membayar pajak, bahkan banyak yang mengeluh. Keluhan-keluhan yang terlontar ini, sesuai dengan law of attraction, akan menarik lebih banyak lagi hal-hal yang dikeluhkan. Semakin kita mengeluh, semakin banyak hal-hal yang kita keluhkan tersebut akan menimpa kita.

Mulai sekarang, secara perlahan-lahan, marilah kita membayar pajak dengan suasana hati penuh keberlimpahan. Mari kita jadikan membayar pajak itu sebagai pemberian kita kepada negara karena negara sangat membutuhkannya untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. Dengan memberikan sebagian kecil penghasilan kita kepada negara untuk dikelola demi kesejahteraan bangsa dengan perasaan berkelimpahan, perasaan berkelimpahan ini akan menarik keberlimpahan-keberlimpahan yang berlipat-lipat kepada kita. Sumber-sumber penghasilan yang lain akan bermunculan, mitra-mitra bisnis akan datang, pelanggan-pelanggan akan berdatangan, sehingga bisnis kita akan bertambah maju dan semakin sukses.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, sekarang saya punya definisi PAJAK yang baru, yaitu:

PAJAK ADALAH PEMBERIAN BERUPA UANG DENGAN HATI PENUH KEBERLIMPAHAN KEPADA NEGARA YANG SANGAT DIBUTUHKAN UNTUK PENGELOLAAN NEGARA DEMI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SECARA LUAS.     

2 comments on “Teori Keberlimpahan Dalam Membayar Pajak

  1. Met pagi Pak Nyoman.. blogwalking.
    sekalian ngenalkan website resmi kantor kami yang baru
    http://www.beacukai-kediri.com
    Karena masih baru, mohon masukannya yah..
    Leboh membahas sisi Cukai daripada pabean dan pajak.
    Smoga bisa jadi bahan referensi…
    Salam tuk keluarga

    Bambang

  2. Nyo… Bahkan di negara maju pun nggak ada namanya orang bayar pajak merasa berkelimpahan…. Tapi memang orang di negara maju lebih sadar pajak dan pemerintahnya pun tidak main-main dengan uang pajak. Penggunaannya benar-benar untuk kepentingan rakyat dan pelaksanaan tugas-tugas pemerintahnya. Cari deh teori baru tentang penggunaan uang pajak. Teori-teori yang ada selama ini kan menyoroti WP, nah sekarang coba cari teori baru mengenai penggunaan uang pajaknya itu sendiri. Mestinya kan ada transparency, consistency, accountability, public service, dll. Nah.. apa Indonesia sudah sepenuhnya melakukan hal itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: