2 Komentar

Doa “Past Tense”, “Future Tense”, dan “Present Continuous Tense” (1)

Alkisah, Nashviuddin sedang berdoa khyusuk dan sudah berlangsung beberapa hari. Akhirnya doanya membuahkan hasil. Tuhan datang dan bertanya: “Hai Ddin! Untuk apa kamu berdoa sekhyusuk ini?” Nashviuddin menceritakan betapa sengsara dan menderita hidupnya, belum lagi ditambah istrinya yang cerewetnya bukan main. Kehidupan keluarga morat-marit, pokoknya komplitlah penderitaannya. “Baiklah”, kata Tuhan, “Karena doamu sangat khyusuk, maka Aku akan mengabulkan permohonanmu. Tapi ingat, Aku akan mengabulkan hanya 3 (tiga) permintaanmu. Sekarang apa yang kamu minta?”. “Baik Tuhan, saya akan mengajukan permintaan yang pertama dulu, tapi ini hanya rahasia kita berdua, karena sudah gak tahan lagi menghadapi kecerewetan istri hamba, maka hamba mohon agar istri nan-cerewet itu segera meninggal dunia. Saya sudah tidak tahan lagi”. “Baiklah kalau begitu. Permintaan pertamamu Aku kabulkan dan segeralah pulang karena istrimu sudah meninggal”. Nashviuddin bergegas pulang dan memang benar istrinya di rumah sudah meninggal dunia. Kemudian dia wartakan kematian istrinya itu ke para tetangga dan handai tolan. Segeralah para tetangga dan handai tolannya berdatangan ke rumah duka untuk melayat. Orang-orang, terutama ibu-ibu pada sesenggukan menangisi kepergian almahrumah. “Koq orang sebaik dia cepat dipanggil Tuhan ya?”, kata sebagian ibu-ibu. “Memang orang baik itu cepat dipanggil Yang Kuasa”, kata sebagian yang lain.  Pokoknya, semua pembicaraan orang-orang mengarah pada betapa baiknya almahrumah semasa hidupnya. Hal ini didengar oleh Nashviudin. “Ternyata istriku selama ini baik ya. Semua orang membicarakan kebaikannya. Berarti aku yang salah ya”, bisik Nashviuddin dalam hati. Diam-diam bergegaslah dia ke tempat berdoanya untuk menjumpai Tuhan lagi. Tanpa menunggu lama lagi, Tuhan sudah datang dan berkata, “Lho, DDin…koq balik lagi? Ada apa?” Nashviuddin segera menjawab, “Maaf, Tuhan. Ternyata permintaan hamba tadi salah besar. Semua orang menyayangkan kematian istri hamba karena selama hidupnya, dia selalu berbuat baik kepada para tetangga dan handai taulan. Saya jadi nyesel dan sadar. Apa boleh saya mohon agar istri hamba hidup kembali?” Tuhan menjawab, “Baiklah, kalau begitu. Permintaanmu Aku kabulkan, tetapi ingat ini sudah permintaan yang kedua. Artinya, kamu tinggal punya satu (1) permintaan lagi yang pasti Aku kabulkan. Segeralah pulang! Istrimu akan hidup kembali”. Tanpa pikir panjang Nashviuddin segera pulang dan dijumpai istrinya sudah hidup kembali.

2 comments on “Doa “Past Tense”, “Future Tense”, dan “Present Continuous Tense” (1)

  1. apa maksudnya?
    saya nggak ngerti dan nggak tau!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: